Selain pakaian, banyak yang menyepelekan sumber penerangan cadangan. Hanya membawa satu senter kepala (headlamp) dengan baterai seadanya adalah bencana. Jika senter utama mati, kamu akan berada dalam kegelapan total, sangat berbahaya di jalur terjal. Bawalah setidaknya dua senter dan baterai cadangan. Selain itu, kehadiran survival kit minimal seperti emergency blanket dan P3K kecil sering diabaikan.
3. Melupakan Prioritas Tracking dan Kecepatan
Kesalahan berikutnya adalah terlalu fokus pada kecepatan atau malah terlalu lambat karena asyik berfoto. Pendakian malam memiliki irama dan aturan mainnya sendiri. Banyak pendaki muda yang terpisah dari rombongan karena mencoba mengejar pace (speed) yang terlalu cepat di awal, atau sebaliknya, terlalu lambat sehingga ketinggalan. Terpisah dari rombongan di tengah kegelapan adalah salah satu situasi paling menakutkan dan berbahaya.
Penting untuk selalu menjaga jarak pandang dengan teman di depan dan belakang. Jangan pernah berjalan sendirian, apalagi saat di jalur yang tidak familiar. Prioritaskan keselamatan jalur (memastikan pijakan aman) di atas kecepatan mencapai spot foto. Ingat, saat malam, ilusi optik sangat mungkin terjadi. Pergerakan yang terlalu cepat bisa meningkatkan risiko salah jalur dan cedera terkilir.
4. Minim Komunikasi dan Tidak Memperhatikan Logistik
Pendakian adalah kerja tim, apalagi saat malam hari. Kesalahan fatal keempat adalah minimnya komunikasi dan perencanaan logistik yang buruk di dalam tim. Misalnya, ada anggota tim yang kedinginan atau kehabisan air, tetapi enggan berbicara karena takut menghambat. Atau, tim lupa bahwa mereka belum mengisi ulang bekal makanan ringan (snack) yang berfungsi sebagai sumber energi cepat.














