ketika.id – Pada suatu hari di tahun 1633 Masehi, Sultan Agung Hanyokrokusumo duduk termenung di Pendopo Keraton Mataram. Sang penguasa Jawa itu sedang memecahkan masalah pelik: bagaimana menyatukan sistem penanggalan Hindu warisan leluhur dengan kalender Islam yang baru masuk? Hasil pemikirannya melahirkan Kalender Jawa – masterpiece budaya yang tetap digunakan 4 abad kemudian.
Latar Belakang Reformasi Kalender
Sebelum era Sultan Agung (1593-1645), masyarakat Jawa menggunakan:
✔ Kalender Saka (berbasis Hindu, sistem lunar-solar)
✔ Kalender Hijriah (dibawa para ulama Islam)














