Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Politik Kita

Mengapa Film Horor Selalu Banyak Digemari? Ini 5 Alasan Psikologis dan Budaya di Balik Fenomena Tersebut

1026
×

Mengapa Film Horor Selalu Banyak Digemari? Ini 5 Alasan Psikologis dan Budaya di Balik Fenomena Tersebut

Sebarkan artikel ini
Foto: pexels

ketika.id – Film horor terus menjadi salah satu genre paling populer di industri perfilman global. Dari The Exorcist (1973) hingga Hereditary (2018), film horor selalu memiliki basis penggemar yang loyal. Lalu, mengapa banyak orang justru menikmati sensasi ketakutan yang sengaja dicari ini? Berikut penjelasan mendalam tentang daya tarik abadi genre horor.

1. Adrenalin & Sensasi “Ketakutan yang Aman”

Menurut penelitian University of Pittsburgh, menonton horor memicu:

  • Lonjakan adrenalin dan dopamine (hormon kesenangan)
  • Efek “rush” mirip naik roller coaster, tapi dalam kontrol aman
  • Mekanisme psikologis disebut “benign masochism” – menikmati stres dalam situasi tidak benar-benar mengancam

“Ketakutan di bioskop adalah versi playground-nya orang dewasa” – Dr. Jeffrey Goldstein, Psikolog Media

2. Kebutuhan Manusia akan Cerita Tabu & Transgresif

Horor memungkinkan penonton menjelajahi:

  • Kematian dan hal mistis (tabu dalam budaya sehari-hari)
  • Batas-batas moral melalui karakter antagonis
  • Fantasi tersembunyi tentang kekerasan tanpa konsekuensi nyata

Contoh: Kesuksesan franchise Saw mencerminkan ketertarikan pada eksplorasi psikopatologi ekstrem.

3. Media Katarsis Emosional

Studi tahun 2020 di Journal of Media Psychology menemukan:

  • 72% penonton horor melaporkan perasaan legah setelah menonton
  • Efek terapeutik untuk melepas kecemasan sehari-hari
  • Mekanisme koping terhadap ketakutan nyata (seperti pandemi)

Fenomena ini menjelaskan lonjakan popularitas horor selama masa krisis.

4. Daya Tarik Komunal & Budaya Pop

Horor menjadi pengalaman sosial melalui:

  • Tradisi “nonton horor beramai-ramai” (sejak era drive-in theater 1950an)
  • Konten viral (jumpscare, teori konspirasi lore film) di media sosial
  • Event tahunan (Halloween Horror Nights, festival film horor)
Baca Juga:  Mengapa Hantu Lokal Lebih Bikin Merinding? Ini Analisis Mengapa Horor Indonesia Lebih Menakutkan dari Hollywood

Franchise seperti The Conjuring Universe sukses besar karena menciptakan mitologi yang bisa dieksplorasi bersama.

5. Inovasi Teknik Sinematik & Refleksi Sosial

Para sutradara menggunakan horor untuk:

  • Eksperimen teknik kamera/efek khusus (contoh: found footage di Paranormal Activity)
  • Kritik sosial terselubung (Get Out membahas rasisme, The Babadook tentang depresi)
  • Revolusi sub-genre (folk horror, elevated horror)

Fakta Menarik Tren Horor 2024:

  • 58% penonton horor berusia 18-35 tahun (data The Numbers)
  • Film horor dengan budget rendah sering memberi ROI hingga 400%
  • Negara Asia (Jepang, Korea, Indonesia) menjadi kiblat horor baru

“Kita butuh horor untuk memahami kemanusiaan yang paling gelap sekaligus paling mulia” – Jordan Peele (Sutradara Get Out)

Example 120x600
Wali Kota Eri Cahyadi Bersama jajaran OPD saat meninjau gedung eks Hi tech mall
Indeks

Revitalisasi eks Hi-Tech Mal kini kembali dipacu, dengan target dan janji baru yang disusun rapi. Publik pun menanti, apakah kali ini proyek tersebut benar-benar bertransformasi menjadi ruang hidup baru kota atau kembali berhenti di tahap finishing dan harapan. Baca Selengkapnya: