Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
GenZetaIndeks

Editorial: Ketika Mimpi Anak Muda Surabaya dan Gelombang Esport

18
×

Editorial: Ketika Mimpi Anak Muda Surabaya dan Gelombang Esport

Sebarkan artikel ini

Di sebuah kamar kos di Surabaya, seorang mahasiswa mengatur ulang mikrofon kecilnya sebelum menekan tombol “live”. Di layar ponselnya, ratusan penonton menunggu. Ia bukan artis, bukan musisi. Ia seorang gamer. Beberapa tahun lalu, mungkin itu hanya dianggap hobi. Kini, dunia telah berubah.

Industri esports Indonesia diproyeksikan memasuki fase pertumbuhan signifikan pada 2026. Sejumlah laporan industri dan riset pasar menyebut valuasinya bisa mencapai kisaran Rp 5 triliun.

Platform riset Statista pun demikian menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan audiens tercepat di Asia Tenggara.

Sementara rangkuman ekosistem dari Ligagame Esports menyebut 2026 sebagai fase konsolidasi yakni masa ketika industri menjadi lebih serius, lebih profesional.

Angka-angka itu terdengar besar. Tapi di Surabaya, ia punya wajah yang lebih sederhana: anak-anak muda yang berkumpul di kafe dengan Wi-Fi cepat, komunitas yang latihan tiap malam, turnamen kecil di aula sekolah, dan mimpi yang tumbuh dari layar 6 inci.

Di tengah arus itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyiapkan eks Hi-Tech Mall sebagai pusat industri kreatif anak muda. Gedung yang dulu dikenal sebagai pusat perangkat komputer kini bersiap lahir kembali.

Banyak yang melihatnya sebagai revitalisasi bangunan lama. Tapi bagi generasi digital, itu bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih personal: ruang untuk bertumbuh.

Hi-Tech Mall dulu identik dengan rakitan PC dan aksesori gaming. Tempat orang berburu VGA card dan keyboard mekanik. Kini, ia berpeluang menjadi rumah bagi ekosistem baru—studio streaming, ruang latihan tim esports, arena turnamen mini, coworking space untuk kreator konten.

Dengan lebih dari 50 juta penonton aktif esports di Indonesia dan dominasi mobile gaming yang kuat, game bukan lagi sekadar hiburan.

Ia adalah ekosistem ekonomi: sponsor, hak siar, streaming, event offline, hingga monetisasi kreator konten. Dan setiap event besar membawa efek nyata: hotel terisi, UMKM bergerak, transportasi hidup.

Surabaya punya anak muda yang siap. Punya komunitas yang tumbuh. Punya gedung yang sedang disiapkan. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian menjadikannya ekosistem, bukan sekadar ruang.

Karena jika 2026 benar-benar menjadi fase konsolidasi industri, hanya yang punya fondasi kuat yang akan bertahan. Kota-kota yang membaca arah zaman akan menjadi magnet talenta. Kota yang ragu akan sekadar menjadi pasar.

Di kamar kos itu, si mahasiswa tadi menutup siarannya malam itu. Penontonnya bertambah. Donasi kecil masuk. Ia tersenyum. Bagi dia, ini bukan lagi main-main.

Mungkin, di tempat lain di Surabaya, ada ratusan mimpi serupa.

Hi-Tech Mall bisa menjadi panggungnya. Atau sekadar menjadi gedung.

Pilihan itu ada di tangan kota ini.

Example 120x600