Lalu, mana yang lebih disukai penonton Indonesia? Mari kita bahas perbandingannya dari segi tema, tren box office, dan respons penonton.
1. Horor Religi: Ketakutan yang Berbasis Iman
Horor religi menggabungkan unsur supernatural dengan nilai-nilai keagamaan, biasanya Islam. Film-film ini sering menampilkan:
- Eksorsisme atau gangguan jin/setan (“The Exorcism”, “Danur”)
- Ujian iman dan pertarungan antara kebaikan vs. kejahatan (“Pengabdi Setan 2: Communion”)
- Peran ustadz atau paranormal sebagai tokoh penolong
Keunggulan:
- Lebih mudah mendapatkan izin dari lembaga sensor karena mengandung pesan moral.
- Mendapat dukungan dari komunitas religius.
- Menyentuh ketakutan nyata penonton akan kerasukan atau gangguan makhluk halus.
Contoh Sukses:
- “Danur” (2017) – Rp 108 miliar
- “Pengabdi Setan 2” (2022) – Rp 402 miliar
2. Horor Mistis: Kengerian dari Legenda & Kutukan
Horor mistis mengangkat cerita rakyat, mitos, atau kutukan yang melekat pada tempat atau benda tertentu. Beberapa cirinya:
- Latar belakang tradisi atau kepercayaan lokal (“KKN di Desa Penari”, “Sewu Dino”)
- Hantu perempuan berambut panjang atau pocong (“Tumbal Nyai”, “Sundelbolong”)
- Konsep balas dendam arwah penasaran
Keunggulan:
- Lebih bebas bereksperimen dengan cerita tanpa batasan dogma agama.
- Menghadirkan nostalgia akan cerita hantu masa kecil.
- Lebih banyak variasi dalam alur dan karakter antagonis.
Contoh Sukses:
- “KKN di Desa Penari” (2022) – Rp 1,08 triliun
- “Sewu Dino” (2023) – Rp 350 miliar
3. Perbandingan Popularitas di Box Office
| Kategori | Horor Religi | Horor Mistis |
|---|---|---|
| Penonton Tertinggi | Pengabdi Setan 2 | KKN di Desa Penari |
| Tema Dominan | Eksorsisme, iman | Kutukan, legenda |
| Daya Tarik | Pesan religius | Cerita rakyat & misteri |
| Sensasi | Lebih psikologis | Lebih visual & jumpscare |
4. Mana yang Lebih Disukai?
Berdasarkan data box office, horor mistis cenderung lebih laris karena:
- Ceritanya lebih universal (tidak terbatas pada satu agama).
- Lebih banyak improvisasi dalam alur dan karakter.
- Tren viral di media sosial (seperti KKN di Desa Penari yang awalnya dari thread Twitter).
Namun, horor religi tetap memiliki pasar loyal, terutama di kalangan penonton yang ingin menggabungan hiburan dengan nilai-nilai keagamaan.
5. Masa Depan Film Horor Indonesia
- Horor Religi mungkin akan lebih banyak mengadopsi konsep eksorsisme ala Barat (The Conjuring).
- Horor Mistis akan terus menggali cerita rakyat yang belum banyak diangkat (misalnya “Lore Nusantara”).
- Kolaborasi Keduanya: Beberapa film mulai menggabungkan unsur religi dan mistis, seperti “Sijjin” (2023).
Baik horor religi maupun mistis sama-sama dicintai penonton Indonesia, tergantung selera dan ketertarikan terhadap tema tertentu. Jika horor religi unggul dalam kedalaman pesan, horor mistis menang dalam kreativitas cerita. (mzy)














