Ketika.id – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memicu sorotan geopolitik dunia. Setelah negosiasi nuklir yang macet dan ultimatum dari Washington, dinamika hubungan kedua negara kini melibatkan ancaman militer, manuver diplomatik di Eropa, serta tekanan domestik yang melonjak di dalam negeri Iran.
Perundingan nuklir tidak berjalan mulus di Jenewa, dengan ketidaksepakatan pada isu fundamental seperti pengayaan uranium dan pembatasan program rudal. Presiden AS Donald Trump dikabarkan memberi tenggat 10–15 hari kepada Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir atau menghadapi konsekuensi serius, termasuk kemungkinan serangan terbatas terhadap fasilitas tertentu di Iran.
Tehran belum mundur dari posisinya. Iran bersiap mengajukan counterproposal untuk negosiasi, sambil menegaskan haknya atas pengayaan nuklir secara damai di bawah pengawasan internasional. Meskipun beberapa prinsip utama telah disepakati secara luas, perbedaan mendalam tetap terjadi tentang struktur program nuklir dan cakupannya.
Sementara itu, Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Iran tidak akan “menyerah” di bawah tekanan internasional, menegaskan keteguhan negara itu dalam menghadapi tekanan politik dan ekonomi global. Pernyataan itu sekaligus mencerminkan tekad Tehran untuk mempertahankan kedaulatan negaranya, bahkan di tengah upaya tekanan dan sanksi.
Perkembangan ini juga dipengaruhi oleh tindakan militer simbolik. Garda Revolusioner Iran menggelar latihan angkatan laut di Selat Hormuz—jalur strategis yang menjadi urat nadi bagi distribusi minyak global. Penutupan sementara kanal tersebut pada momen tertentu telah berhasil menarik perhatian pasar energi karena potensi dampaknya terhadap pasokan minyak dunia.
Risiko geopolitik ini turut memengaruhi pasar global. Ketidakpastian di Selat Hormuz bisa menimbulkan gangguan terhadap rute pengiriman minyak, yang pada gilirannya dapat menekan pasokan energi dunia dan memicu lonjakan harga minyak serta mata uang.
Di sisi lain, Iran juga menghadapi tekanan domestik yang signifikan. Gelombang protes besar-besaran yang berlangsung sejak akhir 2025 telah menyebabkan pemerintahan melakukan pemadaman internet nasional dan crack-down terhadap demonstran—tindakan yang menuai kecaman luas dari komunitas internasional dan organisasi hak asasi manusia.
Dalam konteks geopolitik yang lebih luas, eskalasi konflik Iran–AS bukan hanya menjadi masalah bilateral. Banyak negara di kawasan dan di luar wilayah Timur Tengah berupaya meredakan ketegangan, sementara aktor global dan regional lainnya seperti Rusia, China, dan negara-negara Teluk memainkan peran strategis mereka sendiri dalam menjaga keseimbangan kekuatan dan meminimalkan risiko konfrontasi terbuka.
Situasi ini menunjukkan bahwa hubungan Iran–AS dan isu nuklir bukan sekadar konflik regional, tetapi telah menjadi titik tumpu geopolitik global. Perkembangannya akan terus menjadi indikator utama stabilitas di Timur Tengah, harga energi global, dan arah kebijakan luar negeri dari kekuatan dunia besar sepanjang 2026.














