Seremonial harusnya tak menjadi langkah utama dalam memperingati Hari Pers Nasional (HPN). HPN seharusnya menjadi ruang refleksi. Terutama di Surabaya, kota yang sejarahnya dibentuk oleh suara perlawanan.
Salah satu suara itu adalah Bung Tomo, nama yang tak asing ditelinga warga kota pahlawan ini bukan hanya tokoh perjuangan, tetapi juga insan pers yang memahami kekuatan media massa.
pria yang bernama lengkap Soetomo ini memulai karier jurnalistiknya sebagai wartawan lepas Harian Soeara Oemoem di Surabaya pada 1937.
lepas itu, dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi redaktur Mingguan Pembela Rakyat. Pada masa pendudukan Jepang, ia bekerja di kantor berita Domei, bagian Bahasa Indonesia untuk Jawa Timur.
Setelah Indonesia merdeka, Bung Tomo menjabat Pemimpin Redaksi Kantor Berita Antara pada 1945. Pengalaman panjang ini membentuk kemampuannya menyampaikan pesan secara efektif.
Ketika pertempuran Surabaya pecah pada 10 November 1945, Bung Tomo tampil sebagai orator ulung. Melalui siaran radio, ia menyerukan perlawanan terhadap pasukan Inggris dan NICA yang hendak merebut kembali Indonesia. Dari mikrofon, semangat arek Surabaya dibangkitkan.
Namun refleksi Hari Pers hari ini terasa getir. Publik kembali dihadapkan pada fakta dipugarnya bangunan yang selama ini diyakini sebagai Rumah Siaran Bung Tomo.
Hilangnya situs ini bukan sekadar hilangnya bangunan, melainkan hilangnya penanda sejarah. Di Kota Pahlawan, kehilangan semacam ini semestinya tidak terjadi tanpa penjelasan yang terang.
Pemerintah Kota Surabaya perlu segera melakukan penelusuran terbuka: status lahan, riwayat bangunan, serta catatan aset. Verifikasi sejarah juga harus melibatkan lembaga terkait, akademisi, dan komunitas sejarah, agar situs ini tidak hanya hidup dalam cerita, tetapi berdiri di atas bukti.
Jika bangunan fisiknya sudah hilang, Surabaya tetap bisa menjaga warisan itu melalui penetapan situs, penanda resmi, museum mini, dan arsip digital. Sejarah harus diberi ruang.
Hari Pers mengingatkan bahwa pers pernah menjadi alat perjuangan. Maka menjaga jejak Bung Tomo adalah bagian dari menjaga martabat pers itu sendiri. JASMERAH bukan slogan. Ia tanggung jawab.

Berita Terkait

Baca Juga













