Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Ekonomi & BisnisPolitik Kita

Rumah Kompos dan Jalan Sunyi Surabaya Menjaga Lingkungan dan Anggaran

164
×

Rumah Kompos dan Jalan Sunyi Surabaya Menjaga Lingkungan dan Anggaran

Sebarkan artikel ini

Ketika.id – Di tengah hiruk-pikuk persoalan sampah perkotaan, Pemerintah Kota Surabaya menempuh jalan yang kerap luput dari sorotan: mengolah sampah dari hulunya. Lewat rumah kompos, kebijakan lingkungan itu perlahan menjelma strategi senyap yang bukan hanya menekan timbulan sampah, tetapi juga menjaga kesehatan anggaran daerah.

Setiap hari, Kota Surabaya menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan beban nyata bagi kota yang terus tumbuh. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Dedik Irianto, menyebut besarnya timbulan sampah mendorong pemerintah kota untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pengelolaan di hilir.

“Jadi jumlah timbulan sampah di Kota Surabaya setiap harinya adalah 1.800 ton per hari,” ujar Dedik, Selasa (13/1/2026).

Dari kesadaran itu, Pemkot Surabaya memperkuat penanganan sampah sejak dari sumbernya. Salah satunya melalui pengoperasian 27 rumah kompos yang tersebar di berbagai wilayah kota. Rumah-rumah kompos ini mampu mengolah sampah organik dengan kapasitas total mencapai 95,17 ton per hari, terutama dari hasil perantingan pohon, pohon tumbang, serta sampah sayuran dari pasar.

“Untuk sampah organik di Kota Surabaya, kita memiliki kurang lebih 27 rumah kompos,” terang Dedik.

Bahan-bahan organik tersebut kemudian diolah menjadi kompos yang dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan kota, terutama pemeliharaan ruang terbuka hijau (RTH). Langkah ini secara perlahan memangkas ketergantungan pada pupuk dari pihak luar.

“Ini yang kemudian kita kelola menjadi kompos, sehingga mengurangi jumlah sampah,” paparnya.

Manfaatnya tidak berhenti pada lingkungan. Dedik mengungkapkan, pengelolaan sampah organik memberikan dampak langsung terhadap efisiensi belanja daerah.

“Jadi mengurangi belanja pupuk Dinas Lingkungan Hidup Surabaya,” ungkapnya.

Kebutuhan kompos untuk RTH di Surabaya tergolong besar. Dengan memproduksi kompos secara mandiri, Pemkot Surabaya bukan hanya mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA Benowo, tetapi juga menekan pengeluaran rutin.

“Selain mengurangi sampah yang masuk ke TPA, juga bisa mengurangi belanja DLH untuk belanja komposnya,” tutur Dedik.

Data DLH Surabaya mencatat, keberadaan 27 rumah kompos mampu menghemat biaya pengangkutan sampah hingga Rp6,73 miliar per tahun. Di sisi lain, berkurangnya beban pengolahan di TPA Benowo menghasilkan efisiensi tambahan sebesar Rp7,36 miliar per tahun. Jika digabungkan, penghematan yang dihasilkan mendekati Rp14 miliar per tahun—angka yang lahir dari kebijakan yang nyaris tak terdengar gemuruhnya.

Setiap harinya, lebih dari 100 ton bahan masuk ke rumah kompos. Rinciannya, hasil perantingan pohon dan sejenisnya mencapai 90,41 ton per hari, sementara sampah pasar menyumbang sekitar 10,14 ton per hari.

Upaya dari hulu ini dilengkapi dengan pengelolaan sampah anorganik melalui Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Saat ini terdapat 12 TPS 3R di Surabaya dengan kapasitas beragam, mulai dari 10 hingga 20 ton per hari.

“Dari 12 TPS ini kapasitasnya bermacam-macam. Ada yang kapasitasnya 10 ton, ada yang 20 ton,” jelas Dedik.

TPS 3R mampu mengurangi hingga separuh volume sampah yang masuk. Sampah anorganik seperti botol, plastik, logam, kaca, kayu, kertas, hingga karton dipilah, termasuk sampah spesifik seperti baterai, lampu, dan kaleng aerosol.

Di balik tumpukan sampah yang diolah, Surabaya sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar kota bersih. Rumah kompos dan TPS 3R menjadi bagian dari jalan sunyi: kebijakan lingkungan yang berdampak ganda—menjaga alam sekaligus mengamankan anggaran. Tanpa gegap gempita, kota ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan hanya soal hijau, tetapi juga soal keberanian memilih cara yang efisien dan berjangka panjang.

Example 120x600