Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Indeks

Wali Kota Eri Cahyadi Paparkan Strategi Tekan Banjir Surabaya, Pompa dan Drainase Jadi Kunci

8
×

Wali Kota Eri Cahyadi Paparkan Strategi Tekan Banjir Surabaya, Pompa dan Drainase Jadi Kunci

Sebarkan artikel ini
RUMAH POMPA Wali Kota Surabaya saat memaparkan penanganan banjir di pusat kota Surabaya kepada Wamendagri
RUMAH POMPA Wali Kota Surabaya saat memaparkan penanganan banjir di pusat kota Surabaya kepada Wamendagri
Example 468x60

Ketika.id – Eri Cahyadi menegaskan bahwa pengendalian banjir di Kota Surabaya tidak bisa diselesaikan dengan kesiapsiagaan semata, melainkan membutuhkan sistem yang dibangun secara konsisten dan terintegrasi. Hal itu disampaikan Eri saat mendampingi Bima Arya Sugiarto meninjau Rumah Pompa Darmo Kali, Kamis (22/1/2026).

Menurut Eri, perhatian pemerintah pusat terhadap sistem pompa Surabaya muncul setelah sejumlah kawasan yang selama bertahun-tahun menjadi langganan banjir kini terbebas dari genangan, meski hujan deras kerap mengguyur kota.

Example 300x600

“Beliau heran, hujan deras berkali-kali tapi di pusat kota tidak ada genangan. Saya jelaskan bahwa ini hasil dari sistem pompa dan drainase yang dibangun dan dijalankan secara terintegrasi,” ujar Eri.

Ia menyebut perubahan signifikan terjadi di sejumlah titik strategis, seperti Jalan Ahmad Yani depan Rumah Sakit Islam, kawasan Monumen Bambu Runcing, Jalan Kayoon, depan Gedung Grahadi, hingga sekitar Patung Joko Dolog. Kawasan-kawasan tersebut sebelumnya kerap tergenang, namun kini relatif aman saat hujan.

Eri menegaskan, capaian tersebut bukan hasil pekerjaan instan. Pemkot Surabaya, kata dia, membangun sistem pompa, drainase, dan pengendalian aliran air secara bertahap, disesuaikan dengan karakter wilayah.

“Ini bukan kerja setahun dua tahun. Sistemnya harus saling terhubung. Kalau tidak dibangun pompa dan long storage, masalah banjir tidak akan pernah selesai,” tegasnya.

Ia mencontohkan kawasan Dukuh Kupang yang selama lebih dari 50 tahun dikenal rawan banjir. Melalui pendekatan sistematis, wilayah tersebut kini terbebas dari genangan.

“Dukuh Kupang sekarang tidak banjir sama sekali. Dulu airnya bisa sampai leher. Ini yang membuat Pak Wamen tertarik dan ingin melihat langsung, bahkan bertanya ke warga,” ungkap Eri.

Meski demikian, Eri mengakui masih terdapat sejumlah titik yang belum sepenuhnya tertangani, seperti kawasan Simo dan sekitar SMA Negeri 14 Surabaya. Penanganan di wilayah tersebut baru dimulai pada 2026 karena membutuhkan perhitungan teknis yang lebih hati-hati.

“Karakter wilayahnya mirip Dukuh Kupang. Kalau salah buka, wilayah di bawahnya seperti Petemon dan Pacuan Kuda bisa terdampak. Karena itu harus sangat terukur,” jelasnya.

Eri menambahkan, penanganan banjir di Surabaya akan terus berjalan dan tidak berhenti pada titik-titik yang sudah aman. Ia menegaskan komitmen Pemkot Surabaya untuk terus menyempurnakan sistem pengendalian air sebagai bagian dari adaptasi terhadap cuaca ekstrem.

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri melalui Wamendagri Bima Arya Sugiarto mengapresiasi langkah Surabaya yang dinilai mampu menjawab tantangan banjir dengan pendekatan inovatif. Ia menyebut sistem pompa air Surabaya menarik untuk dipelajari dan berpotensi menjadi rujukan bagi daerah lain.

Namun bagi Eri, ketertarikan daerah lain bukan tujuan utama. Yang terpenting, kata dia, adalah memastikan warga Surabaya terlindungi dari risiko banjir secara berkelanjutan.

“Kami mohon doa agar ikhtiar ini terus berhasil. Penanganan banjir itu proses panjang. Yang penting jangan menyerah dan terus cari solusi,” pungkasnya.

Example 300250
Example 120x600
Wali Kota Eri Cahyadi Bersama jajaran OPD saat meninjau gedung eks Hi tech mall
Indeks

Revitalisasi eks Hi-Tech Mal kini kembali dipacu, dengan target dan janji baru yang disusun rapi. Publik pun menanti, apakah kali ini proyek tersebut benar-benar bertransformasi menjadi ruang hidup baru kota atau kembali berhenti di tahap finishing dan harapan. Baca Selengkapnya:

peristiwa-malari-Foto Istimewa
Indeks

Tak banyak yang sadar, 15 Januari menyimpan salah satu ledakan sosial terbesar dalam sejarah Indonesia. Bukan perang, bukan kudeta terbuka tetapi Jakarta pernah benar-benar lumpuh. Mobil dibakar, toko dijarah, mahasiswa diburu. Sejarah mencatatnya sebagai Peristiwa Malari. Baca Selengkapnya: