Contohnya filter wajah yang viral atau makanan dengan bentuk aneh. Begitu sensasi kebaruan itu hilang, tidak ada alasan kuat untuk terus mengikutinya. Keterlibatan (engagement) yang dangkal ini membuat tren tersebut rapuh dan mudah dilupakan. Berbeda dengan hobi atau passion yang melibatkan emosi dan kemampuan, tren FOMO hanya bertahan sebatas penampilan.
3. Algoritma Media Sosial yang Sangat Dinamis
Kita tidak bisa memisahkan diri dari peran algoritma raksasa seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Algoritma ini dirancang untuk terus menyajikan konten yang fresh dan menarik perhatian, demi menjaga durasi tonton pengguna.
Artinya, begitu sebuah konten mencapai puncaknya (viral), algoritma akan segera mencari dan mendorong konten-konten potensial berikutnya ke permukaan. Pergeseran fokus algoritma inilah yang secara efektif “mematikan” tren lama. Tren FOMO cepat menghilang karena platform itu sendiri secara aktif mempromosikan hal yang lebih baru demi menjaga siklus viralitas tetap berjalan.
4. Dorongan Keinginan untuk Berbeda (The Desire for Uniqueness)
Meskipun FOMO mendorong kita untuk ikut-ikutan, di sisi lain, Gen Z juga memiliki dorongan kuat untuk menjadi unik dan otentik. Begitu sebuah tren menjadi terlalu mainstream—saat semua orang, termasuk orang tua kita, sudah ikut melakukannya—tren tersebut kehilangan coolness factor-nya.
Ketika sesuatu sudah tidak lagi terasa eksklusif atau unik, para trendsetter yang menjadi motor awal tren akan segera meninggalkannya. Mereka mencari hal-hal baru yang belum diketahui banyak orang. Siklus ini secara konstan menciptakan dan mematikan tren, memastikan bahwa yang berbau FOMO cepat lenyap demi menjaga citra “anti-mainstream” sebagian besar penggunanya.














