Kesulitan Mengembangkan Keterampilan Sosial
Anak-anak belajar cara berinteraksi dan mengelola konflik dengan mencontoh orang tua mereka. Jika yang mereka lihat hanyalah pola komunikasi yang agresif, teriakan, atau saling menghina, mereka akan meniru perilaku tersebut. Dampaknya, mereka akan kesulitan mengembangkan keterampilan sosial yang sehat. Mereka mungkin menjadi agresif terhadap teman sebaya (membentak atau memukul) atau sebaliknya, menjadi sangat tertutup dan menarik diri dari pergaulan karena takut berkonflik. Mereka tidak belajar cara bernegosiasi atau berkompromi secara konstruktif.
Menghambat Perkembangan Otak dan Prestasi Akademik
Lingkungan rumah yang penuh ketegangan akibat pertengkaran dapat menyebabkan pelepasan hormon stres (kortisol) secara berlebihan pada otak anak. Kadar kortisol yang tinggi secara berkelanjutan terbukti menghambat perkembangan bagian otak yang bertanggung jawab atas pembelajaran, memori, dan regulasi emosi. Akibatnya, anak mungkin mengalami penurunan drastis pada prestasi akademik. Mereka sulit fokus di sekolah, daya ingat mereka menurun, dan motivasi belajar mereka hilang karena energi mentalnya habis untuk mengelola stres di rumah.
Membentuk Pola Hubungan yang Tidak Sehat di Masa Depan
Anak-anak yang dibesarkan dalam rumah tangga penuh konflik cenderung menginternalisasi pertengkaran sebagai “hal normal” dalam sebuah hubungan. Dampak jangka panjangnya, mereka mungkin membentuk pola hubungan yang tidak sehat di masa depan, baik saat berpacaran maupun menikah. Mereka mungkin memilih pasangan yang suka bertengkar (karena itu yang mereka kenali) atau sebaliknya, mereka menghindari konflik secara berlebihan, yang juga merupakan cara pengelolaan emosi yang tidak sehat. Mereka juga berisiko lebih tinggi untuk mengalami depresi saat dewasa.













