ketika.id – Gemulai alunan gamelan mengiringi langkah sang pengantin perempuan yang mengenakan kebaya brokat dengan sanggul bokor mengkurep, sementara sang mempelai pria tampan dalam busana beskap lengkap dengan blangkon. Inilah wajah pernikahan adat Jawa yang tak hanya memukau secara visual, tapi juga sarat filosofi kehidupan.
Rangkaian Prosesi yang Penuh Makna
Pernikahan adat Jawa bukan sekadar pesta pora, melainkan rangkaian ritual yang telah diwariskan turun-temurun. Berikut tahapan utamanya:
- Siraman
- Dilaksanakan 1-3 hari sebelum akad nikah
- Melambangkan penyucian diri dengan 7 jenis kembang setaman
- Dipimpin oleh sesepuh dengan doa-doa khusus
- Midodareni
- Malam sebelum pernikahan
- Kedua mempelai dipantangkan bertemu
- Dipercaya sebagai malam turunnya bidadari
- Ijab Kabul
- Dilaksanakan dengan bahasa Jawa krama inggil
- Menggunakan kembang mayang sebagai simbol kehidupan
- Panggih/Sungkeman
- Pertemuan pertama setelah akad
- Disertai ritual balangan suruh (lempar daun sirih)
- Sungkeman kepada orang tua sebagai bentuk bakti
Filosofi di Balik Busana Pengantin
Busana pernikahan Jawa klasik mengandung makna mendalam:














