Karena itu, kepengurusan Golkar Jatim kini memberi ruang pada generasi muda. Bahkan Ketua AMPG saat ini belum berusia 30 tahun.
“Teman sebaya lebih paham ritme berpikir anak muda. Politik tidak bisa satu arah. Harus ada resonansi. Golkar harus jadi rumah yang nyaman untuk semua golongan,” tuturnya.
Di akhir obrolan, Fathoni menyampaikan sebuah refleksi yang menjadi dasar geraknya: bahwa politik harus kembali ke akarnya sebagai ladang pengabdian.
“Kami berpegang: siapa yang memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusannya. Jadi biarlah kami bekerja, memudahkan urusan rakyat. Soal hasil, itu urusan takdir,” katanya sambil tersenyum.
Bagi Arif Fathoni, hakikat politik adalah melayani. Ia percaya bahwa kemenangan sejati bukan yang diraih setiap lima tahun sekali, melainkan yang dibangun melalui kerja lima tahun penuh.
“Kami tidak hanya bekerja saat kampanye. Kami bekerja terus, melayani rakyat dalam keseharian. Karena janji Tuhan itu jelas: siapa yang memudahkan urusan manusia, maka urusannya juga akan dimudahkan,” tutupnya.














