2. Rentan Terhadap Hama dan Penyakit
Jika dibandingkan dengan saudaranya, Robusta, tanaman Arabika jauh lebih manja dan sensitif. Tanaman ini sangat rentan terkena serangan hama seperti serangga atau penyakit karat daun yang bisa merusak seluruh perkebunan dalam waktu singkat. Karena daya tahan tubuhnya yang lebih lemah, para petani harus memberikan perhatian ekstra dan perawatan yang lebih mendetail setiap harinya.
Risiko gagal panen yang tinggi ini membuat ketersediaan stok kopi Arabika di pasar dunia sering kali fluktuatif. Biaya untuk proteksi tanaman dan risiko kerugian yang besar inilah yang kemudian dibebankan pada harga jual biji kopinya agar para petani tetap bisa bertahan.
3. Hasil Produksi yang Lebih Sedikit
Satu pohon kopi Arabika secara alami menghasilkan jumlah biji yang lebih sedikit dalam satu musim panen jika dibandingkan dengan pohon kopi Robusta. Selain itu, masa panen Arabika juga cenderung lebih lambat. Para petani biasanya hanya memetik buah kopi yang sudah benar-benar merah atau matang sempurna demi menjaga kualitas rasa yang optimal.
Sistem petik pilih ini memakan waktu yang lama dan membutuhkan ketelitian tinggi. Karena kuantitas hasil panen yang terbatas namun permintaannya sangat tinggi di seluruh dunia, maka berlaku hukum ekonomi di mana harga akan melambung seiring dengan kelangkaan barang tersebut.














