ketika.id – Di balik gemerlap modernisasi dan geliat pembangunan Kota Pahlawan, ada jejak simbolik yang tak lekang oleh waktu. Lambang lama Kota Surabaya yang bertuliskan “Soera Ing Baja”, lengkap dengan ikon ikan sura dan buaya, bukan sekadar gambar. Ia adalah rekam jejak sejarah yang mencerminkan identitas, semangat, serta transisi kekuasaan dari masa kolonial hingga era kemerdekaan.
Asal Usul: Dari Musik ke Media Kolonial
Lambang hiu (sura) dan buaya (baya) yang kini menjadi identitas Surabaya, ternyata sudah dikenal jauh sebelum resmi dijadikan simbol kota.
Tahun 1848–1858, gambar Sura dan Baya pertama kali digunakan dalam prasasti peringatan 10 tahun Perkumpulan Musik St. Caecilia di Surabaya.
Simbol ini lalu muncul dalam surat kabar Soerabaiasche Courant, dan menjadi ornamen menara pantau Sjahbandar di bekas Pelabuhan Kalimas, wilayah penting perdagangan laut pada masa itu.
Simbol ini mengandung filosofi mendalam tentang keberanian menghadapi bahaya, sebagaimana diabadikan dalam nama kota: Surabaya = “Sura Ing Baya” (berani menghadapi bahaya).
Lahirnya Lambang Resmi: Logo Kolonial 1920














