“Karena tugas Bapak-Ibu memberikan respons, kemudian menjelaskan (informasi). Soal mereka (pelapor) membaca atau tidak, itu nanti soal cerita lain. Kemudian menjadikan keluhan dan masukan itu sebagai landasan pembangunan,” kata Maria.
Ia juga menambahkan bahwa terlalu sering menggunakan gadget saat bekerja dapat memengaruhi daya ingat. “Ketika daya ingat menurun, juga memengaruhi kinerja kita sebagai frontliner. Misalnya ada laporan, mau klik laporan tersebut kemudian lupa, sehingga tidak tuntas dan akhirnya tidak fokus,” tambahnya.
Maria berharap agar seluruh operator layanan publik di lingkungan Pemkot Surabaya tidak menggunakan gadget selama bekerja, demi fokus dan peningkatan kualitas dalam menerima serta menyampaikan laporan masyarakat.
Selain itu, ia juga berharap Pemkot Surabaya melalui Diskominfo dapat memberikan reward kepada staf operator layanan publik teladan. Penilaian ini bisa diukur dari tingkat kepuasan masyarakat setelah mendapatkan layanan informasi. “Nanti nama operator itu bisa menggunakan nama inisial, nah satu orang (staf) itu mendapatkan berapa kali menangani warga, kemudian dinilai. Nah nanti bisa di-trace, warga ini paling senang dilayani oleh siapa. Jadi, ayo kita perbaiki sistem layanan di Kota Surabaya,” pungkasnya. (Res)














