- Memecah Kelapa Gading: Dua buah kelapa gading yang telah digambari tokoh Kamajaya dan Kamaratih (simbol kesuburan dan cinta kasih) dipecah oleh calon ayah. Bentuk dan posisi pecahnya kelapa dipercaya dapat meramalkan jenis kelamin bayi yang dikandung.
- Mengganti Busana: Ibu hamil akan berganti tujuh set kain batik dengan motif yang berbeda-beda, yang melambangkan harapan agar kehidupan sang anak kelak berjalan baik dan penuh keberuntungan.
- Menjual Dawet dan Rujak: Ibu hamil dan suami akan berperan sebagai penjual dawet dan rujak kepada para tamu. Pembeli menggunakan kepingan tembikar sebagai alat pembayaran. Tradisi ini melambangkan kesederhanaan dan harapan agar rezeki keluarga selalu lancar.
- Memotong Tumpeng dan Bubur Merah Putih: Tumpeng dan bubur merah putih merupakan hidangan wajib dalam upacara Tingkeban. Tumpeng melambangkan rasa syukur, sedangkan bubur merah putih melambangkan persatuan antara ayah dan ibu.
Meskipun zaman terus berubah, tradisi Tingkeban tetap dipertahankan oleh sebagian besar masyarakat Jawa sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan sebagai sarana untuk memohon keselamatan serta keberkahan bagi keluarga, khususnya bagi ibu hamil dan calon buah hati. Nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kebersamaan keluarga, dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa tercermin jelas dalam setiap rangkaian ritual Tingkeban.
“Tingkeban ini adalah wujud cinta dan harapan kami sebagai orang tua untuk anak yang sedang dikandung,” ujar Bapak Andi (35), seorang calon ayah yang baru saja melaksanakan upacara Tingkeban untuk istrinya. “Kami berharap tradisi ini akan terus dilestarikan agar generasi mendatang juga dapat memahami kekayaan budaya Jawa.”
Di tengah arus modernisasi, Tingkeban menjadi pengingat akan pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi sebagai bagian dari identitas budaya. Ritual ini bukan hanya sekadar seremonial, tetapi juga merupakan ungkapan kasih sayang, harapan, dan doa yang tulus untuk keselamatan ibu dan calon bayi, sebuah warisan berharga yang patut untuk terus dijaga dan dilestarikan. (res)














