2. Kurangnya Jam Istirahat dan Kualitas Tidur yang Buruk
Begadang demi maraton series atau menyelesaikan tugas mungkin terasa produktif, tapi dampaknya ke suasana hati sangat fatal. Saat tubuh kekurangan tidur, kemampuan otak untuk meregulasi emosi di bagian amigdala akan menurun drastis. Akibatnya, kamu jadi lebih sensitif, mudah tersinggung, dan sulit mengontrol reaksi terhadap hal-hal kecil. Tidur bukan cuma soal istirahat fisik, tapi juga momen bagi otak untuk “reset” emosi agar kamu bisa menghadapi hari esok dengan pikiran yang lebih tenang dan jernih.
3. Kadar Stres yang Menumpuk Akibat Tekanan Hidup
Tuntutan pekerjaan, masalah finansial, hingga ekspektasi sosial sering kali menumpuk menjadi stres kronis yang tidak kita sadari. Ketika pikiran sudah terlalu penuh, mental kita menjadi sangat rapuh. Ibarat gelas yang sudah penuh dengan air, satu tetes masalah kecil saja bisa membuatnya tumpah dan memicu ledakan emosi atau tangisan tiba-tiba. Stres yang tidak terkelola dengan baik membuat sistem saraf selalu dalam kondisi siaga, sehingga mood kamu jadi gampang berubah-ubah sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri yang kelelahan.














