ketika.id – Selain ketupat, lepet adalah salah satu hidangan tradisional yang kerap hadir saat Lebaran di Indonesia, terutama di Jawa. Meski kurang populer dibanding ketupat, lepet memiliki filosofi mendalam dan cita rasa unik yang membuatnya istimewa. Mari kita telusuri sejarah, makna, dan ragam variasi lepet di Nusantara.
1. Apa Itu Lepet?
Lepet adalah makanan berbahan dasar beras ketan yang dicampur dengan kelapa parut dan kacang tolo (kacang tunggak), kemudian dibungkus dengan janur (daun kelapa muda) dan dikukus hingga matang. Bentuknya memanjang seperti lontong, tetapi rasanya lebih gurih dan legit karena penggunaan santan dan garam.
Ciri Khas Lepet:
- Dibungkus anyaman janur berbentuk silinder.
- Teksturnya lengket dan padat.
- Biasanya disajikan berpasangan dengan ketupat sebagai simbol harmoni.
2. Sejarah & Filosofi Lepet dalam Budaya Jawa
Lepet juga dikaitkan dengan Sunan Kalijaga, yang menggunakan makanan ini sebagai sarana dakwah. Berikut makna filosofisnya:
a. Nama “Lepet” = Silep Kang Rahet (Tutup yang Kotor)
- Silep = tutup
- Rahet = kotor, dosa
- Makna: Makanan ini mengingatkan manusia untuk “menutup” atau mengubur kesalahan masa lalu setelah saling memaafkan di Hari Raya.
b. Bahan-Bahan Lepet & Simbol Kehidupan
- Beras ketan: Kesabaran dan ketahanan.
- Kacang tolo: Kekeluargaan (karena tumbuh bergerombol).
- Janur: Kesucian (dari bahasa Arab jaa-a nur).
- Anyaman yang rapat: Perlindungan dari hal-hal buruk.
c. Makna Penyajian Berpasangan dengan Ketupat
- Ketupat = ngaku lepat (mengakui kesalahan).
- Lepet = silep kang rahet (menutup yang kotor).
- Gabungan keduanya melambangkan proses meminta maaf dan memaafkan secara tuntas.














