Ketika.id – Memasuki pengujung Desember, biasanya beranda media sosial bakal penuh sama unggahan recap satu tahun atau daftar resolusi yang panjangnya kayak antrean konser. Tren new year, new me seolah jadi kewajiban yang harus dipajang biar kelihatan punya tujuan hidup. Tapi belakangan ini, ada pergeseran energi yang kerasa banget di kalangan anak muda. Banyak dari kita yang mulai merasa kalau harapan tahun baru di media sosial itu cuma jadi beban tambahan yang bikin sesak napas.
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ada kejenuhan kolektif yang bikin Gen Z lebih milih untuk tetap santai daripada harus ikut-ikutan tren glow up yang terkadang nggak realistis. Mari kita bedah lebih dalam mengenai fenomena ini dan mengapa banyak Gen Z yang lelah berharap pada harapan tahun baru di ranah digital sekarang.
Tekanan Kompetisi yang Gak Ada Habisnya
Media sosial sering kali berubah jadi arena perlombaan yang nggak kasatmata. Saat melihat teman seangkatan mengunggah pencapaian besar dalam setahun, secara otomatis otak kita melakukan perbandingan. Hal inilah yang memicu munculnya perasaan tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO). Alih-alih merasa termotivasi, banyak anak muda justru merasa lelah karena standar kesuksesan yang ditampilkan di media sosial terasa makin tinggi dan sulit digapai. Harapan tahun baru pun akhirnya cuma terasa seperti kompetisi pamer pencapaian yang bikin kesehatan mental keganggu.














