Example 325x300
Kuliner

Sunan Kalijaga & Filosofi Ketupat, Makna “Kupat” dan “Laku Papat” dalam Budaya Jawa

1120
×

Sunan Kalijaga & Filosofi Ketupat, Makna “Kupat” dan “Laku Papat” dalam Budaya Jawa

Sebarkan artikel ini

ketika.id – Salah satu kontribusi terbesar Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di Jawa adalah melalui pendekatan budaya, termasuk memperkenalkan ketupat sebagai simbol yang sarat makna. Beliau memadukan tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam, menciptakan falsafah “kupat” (ngaku lepat) dan “laku papat” yang terdiri dari lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Berikut penjelasan mendalam tentang filosofi ini:

1. Kupat (Ngaku Lepat): Mengakui Kesalahan

Secara linguistik, “kupat” dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari “ngaku lepat” (mengakui kesalahan). Ini selaras dengan esensi Idul Fitri, yaitu:

  • Pengakuan tulus atas kesalahan kepada sesama.
  • Permintaan maaf sebagai bentuk penyucian diri setelah Ramadan.
  • Anyaman ketupat yang rumit melambangkan dosa manusia yang saling terkait, sehingga harus diurai dengan kesadaran dan tobat.

2. Laku Papat: Empat Konsep Pembebasan Diri

Sunan Kalijaga juga mengajarkan “laku papat” (empat tindakan) sebagai tuntunan hidup pasca-Ramadan:

a. Lebaran: Selesai dan Kembali Suci

  • Asal kata: Dari bahasa Jawa “lebar” (selesai) dan Arab “‘aid al-fitr” (kembali fitrah).
  • Makna:
    • Menandakan berakhirnya puasa Ramadan.
    • Kembali ke fitrah (kesucian) setelah sebulan beribadah.
    • Puncak perayaan dengan silaturahmi dan makan ketupat sebagai simbol kebahagiaan.

b. Luberan: Melimpahkan Rezeki

  • Asal kata: Dari “luber” (melimpah).
  • Makna:
    • Bersedekah ke orang yang membutuhkan (zakat fitrah).
    • Mengalirkan rezeki seperti air yang meluber dari wadah.
    • Dalam konteks ketupat, isi beras yang melimpah melambangkan kemurahan hati.
Baca Juga:  Ketupat dalam Ritual & Perbandingan Tradisi Serupa di Nusantara

c. Leburan: Melebur Dosa

  • Asal kata: Dari “lebur” (melebur, menghilang).
  • Makna:
    • Dosa-dosa dilebur melalui permintaan maaf dan tobat.
    • Persaudaraan diperbarui, tidak ada lagi dendam.
    • Anyaman ketupat yang dibuka simbolisasi “melebur” kesalahan masa lalu.

d. Laburan: Membersihkan Diri

  • Asal kata: Dari “labur” (kapur, pemutih).
  • Makna:
    • Menyucikan diri seperti dinding yang dilabur (diputihkan).
    • Memulai hidup baru dengan hati bersih.
    • Warna putih ketupat (setelah dibuka) menggambarkan kesucian.

Kaitan dengan Ketupat

  • Bentuk anyaman: Simbol ikatan dosa yang harus dilepaskan.
  • Bahan daun kelapa (janur): Dari kata Arab “jaa-a nur” (telah datang cahaya), melambangkan pencerahan spiritual.
  • Beras di dalamnya: Lambang niat murni yang tersembunyi.

Warisan yang Masih Relevan

Filosofi ini masih dipraktikkan masyarakat Jawa hingga kini, terutama saat:

  • Tradisi sungkeman (mohon maaf kepada orang tua).
  • Pembagian ketupat kepada tetangga sebagai bentuk luberan.
  • Makan bersama keluarga sebagai simbol leburan persaudaraan.

“Ketupat bukan sekadar makanan, tapi juga media dakwah Sunan Kalijaga untuk mengajarkan maaf, kebersihan hati, dan kebersamaan.” (res)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *