ketika.id – Salah satu kontribusi terbesar Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di Jawa adalah melalui pendekatan budaya, termasuk memperkenalkan ketupat sebagai simbol yang sarat makna. Beliau memadukan tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam, menciptakan falsafah “kupat” (ngaku lepat) dan “laku papat” yang terdiri dari lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Berikut penjelasan mendalam tentang filosofi ini:
1. Kupat (Ngaku Lepat): Mengakui Kesalahan
Secara linguistik, “kupat” dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari “ngaku lepat” (mengakui kesalahan). Ini selaras dengan esensi Idul Fitri, yaitu:
- Pengakuan tulus atas kesalahan kepada sesama.
- Permintaan maaf sebagai bentuk penyucian diri setelah Ramadan.
- Anyaman ketupat yang rumit melambangkan dosa manusia yang saling terkait, sehingga harus diurai dengan kesadaran dan tobat.
2. Laku Papat: Empat Konsep Pembebasan Diri
Sunan Kalijaga juga mengajarkan “laku papat” (empat tindakan) sebagai tuntunan hidup pasca-Ramadan:
a. Lebaran: Selesai dan Kembali Suci
- Asal kata: Dari bahasa Jawa “lebar” (selesai) dan Arab “‘aid al-fitr” (kembali fitrah).
- Makna:
- Menandakan berakhirnya puasa Ramadan.
- Kembali ke fitrah (kesucian) setelah sebulan beribadah.
- Puncak perayaan dengan silaturahmi dan makan ketupat sebagai simbol kebahagiaan.
b. Luberan: Melimpahkan Rezeki
- Asal kata: Dari “luber” (melimpah).
- Makna:
- Bersedekah ke orang yang membutuhkan (zakat fitrah).
- Mengalirkan rezeki seperti air yang meluber dari wadah.
- Dalam konteks ketupat, isi beras yang melimpah melambangkan kemurahan hati.
c. Leburan: Melebur Dosa
- Asal kata: Dari “lebur” (melebur, menghilang).
- Makna:
- Dosa-dosa dilebur melalui permintaan maaf dan tobat.
- Persaudaraan diperbarui, tidak ada lagi dendam.
- Anyaman ketupat yang dibuka simbolisasi “melebur” kesalahan masa lalu.
d. Laburan: Membersihkan Diri
- Asal kata: Dari “labur” (kapur, pemutih).
- Makna:
- Menyucikan diri seperti dinding yang dilabur (diputihkan).
- Memulai hidup baru dengan hati bersih.
- Warna putih ketupat (setelah dibuka) menggambarkan kesucian.
Kaitan dengan Ketupat
- Bentuk anyaman: Simbol ikatan dosa yang harus dilepaskan.
- Bahan daun kelapa (janur): Dari kata Arab “jaa-a nur” (telah datang cahaya), melambangkan pencerahan spiritual.
- Beras di dalamnya: Lambang niat murni yang tersembunyi.
Warisan yang Masih Relevan
Filosofi ini masih dipraktikkan masyarakat Jawa hingga kini, terutama saat:
- Tradisi sungkeman (mohon maaf kepada orang tua).
- Pembagian ketupat kepada tetangga sebagai bentuk luberan.
- Makan bersama keluarga sebagai simbol leburan persaudaraan.
“Ketupat bukan sekadar makanan, tapi juga media dakwah Sunan Kalijaga untuk mengajarkan maaf, kebersihan hati, dan kebersamaan.” (res)














