Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Kuliner

Sunan Kalijaga & Filosofi Ketupat, Makna “Kupat” dan “Laku Papat” dalam Budaya Jawa

907
×

Sunan Kalijaga & Filosofi Ketupat, Makna “Kupat” dan “Laku Papat” dalam Budaya Jawa

Sebarkan artikel ini

ketika.id – Salah satu kontribusi terbesar Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di Jawa adalah melalui pendekatan budaya, termasuk memperkenalkan ketupat sebagai simbol yang sarat makna. Beliau memadukan tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam, menciptakan falsafah “kupat” (ngaku lepat) dan “laku papat” yang terdiri dari lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Berikut penjelasan mendalam tentang filosofi ini:

1. Kupat (Ngaku Lepat): Mengakui Kesalahan

Secara linguistik, “kupat” dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari “ngaku lepat” (mengakui kesalahan). Ini selaras dengan esensi Idul Fitri, yaitu:

  • Pengakuan tulus atas kesalahan kepada sesama.
  • Permintaan maaf sebagai bentuk penyucian diri setelah Ramadan.
  • Anyaman ketupat yang rumit melambangkan dosa manusia yang saling terkait, sehingga harus diurai dengan kesadaran dan tobat.

2. Laku Papat: Empat Konsep Pembebasan Diri

Sunan Kalijaga juga mengajarkan “laku papat” (empat tindakan) sebagai tuntunan hidup pasca-Ramadan:

a. Lebaran: Selesai dan Kembali Suci

  • Asal kata: Dari bahasa Jawa “lebar” (selesai) dan Arab “‘aid al-fitr” (kembali fitrah).
  • Makna:
    • Menandakan berakhirnya puasa Ramadan.
    • Kembali ke fitrah (kesucian) setelah sebulan beribadah.
    • Puncak perayaan dengan silaturahmi dan makan ketupat sebagai simbol kebahagiaan.

b. Luberan: Melimpahkan Rezeki

  • Asal kata: Dari “luber” (melimpah).
  • Makna:
    • Bersedekah ke orang yang membutuhkan (zakat fitrah).
    • Mengalirkan rezeki seperti air yang meluber dari wadah.
    • Dalam konteks ketupat, isi beras yang melimpah melambangkan kemurahan hati.
Baca Juga:  Mengapa Ketupat Tak Boleh Dimakan Sendirian? Filosofi di Balik Pasangan Opor Ayam & Sambel Goreng

c. Leburan: Melebur Dosa

  • Asal kata: Dari “lebur” (melebur, menghilang).
  • Makna:
    • Dosa-dosa dilebur melalui permintaan maaf dan tobat.
    • Persaudaraan diperbarui, tidak ada lagi dendam.
    • Anyaman ketupat yang dibuka simbolisasi “melebur” kesalahan masa lalu.

d. Laburan: Membersihkan Diri

  • Asal kata: Dari “labur” (kapur, pemutih).
  • Makna:
    • Menyucikan diri seperti dinding yang dilabur (diputihkan).
    • Memulai hidup baru dengan hati bersih.
    • Warna putih ketupat (setelah dibuka) menggambarkan kesucian.

Kaitan dengan Ketupat

  • Bentuk anyaman: Simbol ikatan dosa yang harus dilepaskan.
  • Bahan daun kelapa (janur): Dari kata Arab “jaa-a nur” (telah datang cahaya), melambangkan pencerahan spiritual.
  • Beras di dalamnya: Lambang niat murni yang tersembunyi.

Warisan yang Masih Relevan

Filosofi ini masih dipraktikkan masyarakat Jawa hingga kini, terutama saat:

  • Tradisi sungkeman (mohon maaf kepada orang tua).
  • Pembagian ketupat kepada tetangga sebagai bentuk luberan.
  • Makan bersama keluarga sebagai simbol leburan persaudaraan.

“Ketupat bukan sekadar makanan, tapi juga media dakwah Sunan Kalijaga untuk mengajarkan maaf, kebersihan hati, dan kebersamaan.” (res)

Example 120x600