Filosofi ini adalah pengingat bahwa dalam masyarakat Jawa, etika bicara itu dianggap lebih penting dari status sosial. Bisa jadi seseorang miskin, tapi kalau tutur katanya santun, ia tetap dihormati.
Namun kini, dengan hadirnya media sosial, lathi tak lagi hanya keluar dari mulut, tapi juga dari jari-jemari. Kata-kata yang ditulis di Twitter, Instagram, dan WhatsApp memiliki dampak serupa, bahkan bisa lebih luas akibat daya sebar yang tinggi.
Kasus viral beberapa waktu lalu memperlihatkan seorang influencer muda yang kehilangan banyak pengikut dan kerja sama bisnis karena dianggap melecehkan profesi tertentu lewat unggahan TikTok-nya. Ia kemudian menyampaikan permintaan maaf dan mengaku belajar banyak tentang pentingnya berpikir sebelum berbicara—atau mengetik.
Busana dan Martabat
Sementara itu, bagian kedua dari pepatah ini, “ajining raga saka busana”, mengajarkan bahwa penampilan juga memiliki nilai sosial yang penting. Dalam budaya Jawa, berpakaian rapi dan sopan adalah bentuk penghormatan, baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain.
“Dulu, orang Jawa kalau mau keluar rumah pasti berpikir dua kali soal busana. Bukan soal mahalnya, tapi soal pantas atau tidak. Itu adalah bentuk tenggang rasa dan kesadaran sosial,” tutur Yuli Setyaningsih, seorang pengajar sekolah adat di Solo.














