ketika.id – “Mulutmu, harimaumu,” ujar Pak Trisno sambil tersenyum kecut. Salah seorang warga di sebuah desa kecil di lereng Gunung Merapi, yang tengah resah karena warganya saling serang di grup WhatsApp RT. Tak ada yang berkelahi secara fisik, tapi kata-kata yang saling dilontarkan terasa lebih tajam dari parang.
“Sekarang orang gampang marah, gampang mencaci, padahal nenek moyang kita sudah mengajarkan: ajining diri saka lathi,” lanjutnya.
Pepatah Jawa itu secara lengkap berbunyi: “Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana” yang berarti “harga diri seseorang tergantung dari lisannya, dan kehormatan raganya dari pakaiannya.”
Ungkapan ini telah menjadi pedoman hidup masyarakat Jawa sejak lama, namun maknanya justru semakin relevan di tengah dunia modern yang serba terbuka dan cepat seperti sekarang.
Ucapan adalah Cermin Jiwa
Dalam masyarakat Jawa, lathi atau mulut bukan sekadar alat bicara, tetapi juga simbol dari budi pekerti seseorang. Tak heran jika masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh dalam bertutur kata. Tutur yang santun mencerminkan pribadi yang halus, bijak, dan beretika.














