Dalam konteks modern, nilai ini tetap terasa, khususnya di dunia profesional. Cara seseorang berpenampilan sering kali menjadi kesan pertama yang melekat, dan menentukan perlakuan orang lain terhadapnya. Meski dunia kini semakin terbuka dan bebas, prinsip berpakaian secara kontekstual tetap menjadi bagian dari kecerdasan sosial.
Menjaga Warisan, Merawat Etika
Falsafah Jawa ini bukan sekadar petuah kuno. Ia adalah sistem nilai yang mengajarkan manusia untuk menjaga martabatnya, tidak hanya melalui kata-kata dan penampilan, tetapi juga lewat kesadaran sosial dan empati.
Kalau kita bisa menjaga lathi dan busana, itu artinya kita juga menjaga rasa hormat dan harmoni dalam hidup bermasyarakat.
Di tengah dunia yang semakin gaduh dan serba terburu-buru, ajaran seperti “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana” adalah pengingat bahwa martabat manusia tetap bermuara pada sikap dan rasa. Sebuah kearifan lokal yang tak hanya layak dilestarikan, tapi juga diamalkan setiap hari. (res)














