Ketika.id – Self healing makin sering banget kita dengar, terutama di kalangan anak muda? Dari mulai traveling sendirian ke alam terbuka, staycation mewah, sampai sekadar unplugging dari media sosial, semua disebut sebagai upaya self healing. Ini bukan lagi tren sesaat, melainkan kebutuhan esensial, terutama buat kamu-kamu yang lahir di era digital. Tapi, kenapa sih Gen Z (kita-kita ini) begitu vokal dan butuh banget momen untuk menyembuhkan diri sendiri?
Fenomena ini sejatinya didorong oleh berbagai faktor unik yang melekat pada identitas dan tantangan generasi kita. Kita hidup di tengah pusaran informasi 24/7, tuntutan karier yang tinggi, dan perbandingan sosial yang tak ada habisnya di media sosial. Inilah lima alasan kuat mengapa Gen Z sangat menyukai dan menjadikan self healing sebagai gaya hidup:
1. Tekanan Ekspektasi yang Berlapis (The Pressure Cooker)
Kita tumbuh di tengah ekspektasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Dari tuntutan akademik yang harus sempurna, kewajiban untuk langsung sukses di usia muda (fenomena quarter-life crisis), hingga keharusan memiliki side hustle (kerja sampingan) untuk merasa “produktif”. Semua ini menciptakan tekanan emosional yang konstan. Self healing menjadi katup pelepas tekanan untuk melepaskan diri sejenak dari beban “harus sukses” yang diciptakan oleh masyarakat dan media sosial. Ini adalah cara Gen Z bilang: “Aku butuh jeda sebelum kembali berlari.”














