Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat sebagai simbol filosofi “kupat” (ngaku lepat/mengakui kesalahan) dan “laku papat” (empat tindakan: lebaran, luberan, leburan, laburan). Hal ini membuat ketupat menjadi santunan yang tidak hanya bernilai gizi, tetapi juga mengandung pesan moral tentang maaf dan kebersihan diri.
Ketupat dalam Tradisi Lebaran
Ketupat mulai populer sebagai makanan khas Lebaran pada masa penyebaran Islam di Jawa. Masyarakat waktu itu membuat ketupat sebagai lambang kemenangan setelah sebulan berpuasa. Beberapa teori mengatakan:
- Daun kelapa dipilih karena melambangkan kesederhanaan dan kesucian.
- Anyaman ketupat yang rumit mencerminkan kompleksitas dosa manusia yang harus diurai dengan tobat.
- Isi beras melambangkan kemurnian hati setelah Ramadan.
Di luar Jawa, ketupat juga mengalami akulturasi. Di Sumatra, ketupat sering disajikan dengan gulai atau kari, sementara di Sulawesi, ketupat menjadi bagian dari hidangan “kapurung”.
Ketupat di Era Kolonial dan Modern
Pada masa kolonial Belanda, ketupat mulai dikenal lebih luas sebagai hidangan khas Nusantara. Bahkan, dalam catatan perjalanan Thomas Stamford Raffles (1817), ketupat disebut sebagai makanan tradisional Jawa yang disajikan dalam upacara keagamaan.














